Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label bancarkembar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bancarkembar. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Desember 2016

PKK Bancarkembar Gelar Lomba Peragaan Busana



SEBANYAK 21 perempuan memeriahkan Lomba Peragaan Busana Batik dan Muslimah yang digelar MInggu (18/12) pagi di Kelurahan Bancarkembar, Kecamatan Purwokerto Utara. Lomba diadakan untuk memperingati Hari Ibu 2016.

Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Bancarkembar, Ny Pujiati Ikhwan Sulistiyo mengatakan, kegiatan ini baru kali pertama digelar. Biasanya, momentum Hari Ibu diperingati dengan lomba memasak.

"Kali ini kami mencoba beda dengan menggelar lomba peragaan busana yang diikuti oleh perwakilan RW," katanya di sela-sela acara.

Ia menambahkan, peserta lomba kebanyakan merupakan kelompok ibu rumah tangga. Dengan acara tersebut diharapkan dapat meningkatkan peran perempuan dan menggali potensi. Kegiatan kemarin diikuti 10 peserta kelompok busana batik dan 11 peserta kelompok busana muslimah.

"Alhamdulillah disambut antusias oleh peserta," kata istri Lurah Bancarkembar. Selain diikuti Tim Penggerak PKK Bancarkembar, acara dihadiri ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Purwokerto Utara, Umi Salamah Darwoto.

Pantauan di lokasi, suasana peragaan busana berlangsung meriah. Para peserta diberi kesempatan tiga menit untuk berjalan di karpet merah. Terlihat para peserta berusaha tampil memukau memikat tim penilai. Meski jarang berlengak-lenggok memeragakan busana, beberapa peserta tampil cukup percaya diri. Setelah semua peserta tampil, di akhir sesi dilakukan parade dan foto bersama.

"Cukup senang ada acara seperti ini," komentar Fitri Nur Aeni, peserta dari RT 2 RW 9.

Di akhir acara,dewan juri mengumumkan pemenang. Untuk lomba peragaan busana batik, juara 1,2,dan 3 secara berurutan adalah Catur Kurniawati dari RW 9, Wita R dari RW 5, dan Rike dari RW 10. Untuk lomba peragaan busana muslimah, secara berurutan juara 1,2, dan 3 adalah Novita Sari dari RW 6, Weni dari RW 7, dan Irma dari RW 5. (**)

Senin, 24 Oktober 2016

Ditinggal Pelatihan Pendamping Desa, Si Kecil Merengek




Abi pake baju ini..? Apa ini aja..? Celoteh Si Kecil Yasmin (3).
Matanya yang kecil sambil melihat isi lemari. Sejurus kemudian, tangannya menggapai baju lengan panjang biru-biru yang biasa saya pakai.Setelah berhasil diambil (tentu dengan bantuan saya karena baju ini berada di tumpukan), ia segera mengulurkan baju itu ke saya.

"Jangan, jangann..bukan baju ini sayang," jawab saya sambil berjongkok depan lemari.

Si kecil yang belum lama bangun tidur ini tanggap. Ia kembali melihat isi lemari yang ada di kamar kami. Kali ini yang diambil baju batik. Lalu ia berkata.

"Ini ya Bi,?". Saya segera membalas untuk mengapresiasi. "Iya boleh ini dibawa abi ya," Yasmin tersenyum dan meletakan baju yang dipilihnya bersama pakaian yang sudah saya siapkan. Tak jinjing besar sudah siap menampungnya untuk dibawa ke Semarang, Minggu (22/10) siang.

Selama 12 hari hingga Jumat 4 November 2016 saya harus meninggalkan anak dan istri yang saya cintai. Rentang waktu itu saya berada di Semarang untuk mengikuti pelatihan Pendamping Desa Pemberdayaan (PDP) 2016 bersama tiga ratusan petugas lainnya.

Melihat apa yang diperbuat Yasmin memilihkan baju untuk saya membuat bahagia. Selama ini si kecil yang lahir 17 April 2013 lalu ini manja dan kerap susah ditinggal saya pergi. Kalau pamit, kadang kelayu. Tapi kalau tidak pamit, meninggalkan 12 hari tanpa pamit rasanya yang keterlaluan.

Karenanya, istri saya, Anies Indah Hariyanti mencoba pamit pelan-pelan ke si buah hati sejak beberapa hari menjelang hari keberangkatan. Hasilnya, lumayan bagus. Si kecil memahami dirinya bakal ditinggal oleh si bapak.

"Abi jangan pergi laaa," rengeknya.

Sejurus kemudian, posisi badannya menunjukkan ekspresi sedih. Lunglai dan merebebah ke lantai. Wajahnya ditutup kedua tangannya dalam posisi menyerupai orang sujud. Air matanya keluar. Melihat aksinya ini, saya yang sedang kemas-kemas kemudian berhenti. Saya angkat badan si Yasmin dan membopongnya ke depan cermin.

"Jangan nangis ya Nak. Di rumah ada Mama, ada Embah. Abi kerja dulu yaa..nanti kan punya uang bisa buat jajan," bujuk saya membuatnya berhenti merengek. Setelah itu ia pun ceria, terlihat memanja dalam bopongan.

Tengah hari, selepas solat duhur, mobil travel yang menjemput saya ke Semarang datang menepi di tepi jalan. Si kecil Yasmin ikut mengantar saya. Setelah pamitan ke istri, ibu, dan ibu mertua, giliran si kecil Yasmin yang saya jabat tangannya. Saya kecup pipinya dan melambaikan tangan sembari bergegas naik. Dadaaah Yasmin....jangan cengeng ya. Manut sama Mama. (**)

Rabu, 19 Oktober 2016

Lomba Mewarnai Mengasah Ketelitian Anak




JANGAN anggap enteng event atau gelaran lomba mewarnai bagi anak-anak. Pasalnya, melalui kegiatan ini rupanya bisa mendatangkan banyak manfaat untuk mendorong masa tumbuh kembang. Misalnya, mengasah ketelitian, kehati-hatian, kesabaran, dan nilai seni.

Karena itu, Taman Baca Masyarakat (TBM) Bawor berinisiatif menggelar lomba mewarnai bagi murid TK dan SD. Lomba diadakan secara sederhana di kompleks pingpongan RT 05 RW 07 Kelurahan Bancarkembar, Kecamatan Purwokerto Utara, Banyumas pada Minggu sore, 16 Oktober 2016. Kegiatan diikuti oleh 20 peserta yang terbagi dari kelompok A (usia TK), kelompok B (murid kelas 1-3 SD), dan kelas C (murid kelas 4-6 SD).

Pendiri TBM Bawor, Hanan Wiyoko mengatakan, kegitan ini untuk membiasakan anak-anak di kompleks taman baca untuk berani tampil dan memiliki semangat berkompetisi. Selain itu juga dimaksudkan untuk mengenalkan TBM Bawor di RT 05 RW 07 Bancarkembar.

"Alhamdulillah, konsepnya sederhana tapi mendapat sambutan antusias anak-anak dan orangtua. Kegiatan ini bisa dimaknai untuk merangsang anak agar memiliki kemauan untuk datang dan membaca di TBM Bawor," ujar Hanan yang juga Ketua RT 05 RW 07 ini.

Sebelum dimulai lomba, para peserta terlebih dahulu mengikuti sesi latihan mewarnai yang diadakan empat hari sebelumnya. Saat digelar lomba, tiap peserta mengerjakan kertas mewarnai yang berbeda-beda. Untuk kelompok A, peserta mewarnai gambar buah dengan bidang warna yang besar. Kemudian kelompok B mewarnai gambar anak perempuan bermain pasir di pantai. Sedangkan kelompok C mengerjakan bidang gambar dengan tingkat kesulitan yang lebih rumit yakni gambar dua Minion bermain di laut. Saat sesi lomba digelar, para orangtua terlihat di lokasi. Mereka menyemangati dan mengarahkan anak untuk memberi warna yang sesuai.


Diakhir acara, pengurus TBM memberikan bingkisan kepada juara 1 dan 2 dari setiap kategori. Yang dianggap menang adalah hasil karya yang memiliki komposisi warna bagus, rapi, serta mewarnai dengan teliti. Sebagai pemenang di kategori A adalah Zidan dan Gusti. Pemenang 1 dan 2 kategori B adalah Salma (Kelas 3 SD AL Irsyad 1 Purwokerto) dan Sandova (Kelas 3 SDN 3 Bancarkembar). Sedangkan juara 1 dan 2 kategori C adalah Nabila (Kelas 6 SDN 3 Bancarkembar) dan Wahyu. Karya-karya para pemenang terbilang bagus dan indah. Kegiatan ditutup dengan foto bersama para peserta sembari memegang hasil karyanya. (**) 

Selasa, 18 Oktober 2016

TBM Bawor Partisipasi Dialog Interaktif di Satelit TV



MEMBACA itu penting karenanya perlu didorong kegiatan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. Banyak cara yang dapat dilakukan, diantaranya melalui gerakan kesukarelaan membaca mulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar tempat tinggal. Dengan adanya ketersediaan bahan bacaan serta rangsangan untuk mau membaca, diharapkan minat baca masyarakat Indonesia, dan Banyumas pada khususnya dapat meningkat.

Demikian satu diantara poin yang mengemuka dalam talkshow 'Dialog Interaktif' Peringatan Hari Aksara yang disiarkan live di SatelitTV, Selasa (18/10) selama satu jam. Hadir sebagai pembicara adalah Fuad Zein Arifin (pustakawan Perpusarda Banyumas), Heru (pengiat Rumah Kreatif Wadas Kelir), perwakilan Dinas Pendidikan Banyumas, dan Hanan Wiyoko (pendiri TBM Bawor). Acara dimulai pukul 19.30 WIB hingga 21.30 WIB yang dipandu oleh host Obi Suharjono (Satelit TV).

"Dari hasil penelitian, diketahui minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Yakni rata-rata 27 halaman buku dalam satu tahun. Posisi ini menempatkan posisi Indonesia diposisi kedua terendah," kata Zunianto Subekti, Pimpinan Redaksi Satelit TV memantik diskusi sebelum acara dimulai.

Kondisi ini ditanggapi seragam oleh para pembicara yang menyatakan keprihatinannya.Rendahnya minat baca dalam diskusi tersebut diantaranya karena faktor minimnya ketersediaan bahan bacaan, masyarakat kesulitan mengakses bahana bacaan, harga buku yang mahal, sarana dan prasana perpustakaan yang kurang memadai, serta kurangnya dorongan gerakan literasi di masyarakat.

"Masyarakat perlu dirangsang kegiatan untuk menumbuhkan minat baca. Kehadiran relawan gerakan literasi perlu diperhatikan agar gerakan taman baca masyarakat bisa berkembang," kata Hanan Wiyoko. Perkiraan jumlah TBM di Banyumas saat ini lebih dari 100 lokasi. Rencananya Forum TBM Banyumas akan menggelar pertemuan dan pelatihan mengelola administrasi TBM pada 20 Oktober mendatang di Perpusarda Banyumas.

Di awal diskusi, masing-masing pembicara mempresentasikan upaya yang sudah dilakukan untuk mendorong minat baca. Dari Perpusarda Banyumas menjelaskan adanya kegiatan perpustakaan keliling ke desa-desa, layanan program Silang Terpadu, serta peminjaman koleksi buku. Adapun dari Dinas Pendidikan Banyumas menjelaskan adanya peningkatan sarana dan prasarana pembuatan gedung perpustakaan serta masyarakat bisa menjalin MoU dengan perpustakaan sekolah untuk meminjam buku. Kemudian dari Rumah Kreatif Wadas Kelir dan TBM Bawor menjelaskan kegiatan yang dilakukan serta tantangan menggerakan kegiatan menumbuhkan minat baca.

Saat diskusi, Fuad Zein mengapresiasi terbentuknya TBM Bawor yang tumbuh dari masyarakat serta bentuk kegiatan riil gerakan literasi.

"Meski menggunakan meja pingpong dan sarana yang terbatas namun bisa menumbuhkan semangat masyarakat untuk mau membaca," kata Fuad Zein setelah mendengarkan sekilas paparan TBM Bawor.
Tak terasa satu jam pun bergulir. Di penghujung diskusi, ada pemirsa yang melakukan interaksi dengan menelpon ke redaksi Satelit TV. Sebagai penutup, masing-masing pembicara diminta membuat kesimpulan singkat. Intinya, disepakati bahwa membaca itu penting sehingga gerakan literasi perlu ditumbuhkembangkan di tengah masyarakat.

Bisa membaca itu penting, tapi lebih penting itu punya minat baca.

Terima kasih kepada SatelitTV yang telah mengundang kami, TBM Bawor untuk bisa berpartisipasi. (**) 

Kamis, 13 Oktober 2016

Kisah Pedagang Tak Bisa Baca Tulis




Bapak berputra dua ini buta huruf. Tak bisa membaca dan menulis. Tanda tangan pun sebatas coretan uwer-uwer. Tapi menghitung dan mengenali uang dia jago. Perlu didorong agar melek aksara.

SAYA sengaja tak menyebut identitasnya disini. Mari, sebut saja nama pria gemuk ini dengan nama Pak Sudi, usia sekitar 50an tahun. Rumah orang ini bersebelahan dengan Taman Baca Masyarakat (TBM) Bawor di RT 05 RW 07 Bancarkembar, Kecamatan Purwokerto Utara. Untuk biaya hidup, pak Sudi yang tuna aksara ini memilih berjualan makanan. Pernah jualan bakso, es degan, cilok keliling, dan saat ini berjualan tahu kupat keliling. 

Setiap sore dia berangkat berjualan. Pulang malam, sekitar pukul 22.00 WIB. Uang digunakan untuk menghidupi istri dan anak bungsunya. Termasuk orang gigih bekerja. Pernah satu hari rombongan warga RT mengadakan plesiran ke pantai di Jawa Barat, dia memilih tidak ikut karena eman-eman kehilangan pemasukan harian.

"Aku blas ora bisa maca. Nulis juga ora bisa. (Saya tidak bisa membaca dan menulis sama sekali)," katanya.

Rupanya Pak Sudi ini tak tuntas sekolah dasar. Dia drop out karena alasan ekonomi keluarga. 

Ini berbeda dengan kondisi sekarang. Pemerintah mengeluarkan berbagai program untuk mendukung Program Wajib Belajar 9 Tahun. Misalnya program Beasiswa Siswa Miskin (BSM) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Jadi kalau saat ini ada murid putus sekolah di jenjang SD dan SMP dengan alasan tidak ada biaya jadi terdengar naif. Barangkali itu karena lemahnya dorongan orangtua dan lingkungan serta semangat belajar yang redup.

Perlu Perhatian

Fenomena buta aksara seperti yang dialami Pak Sudi ini harus menjadi perhatian. Jumlah buta aksara di Kabupaten Banyumas diperkirakan banyak dan tersebar di pelosok desa. Setidaknya saya punya pengalaman mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pemberantasan Buta Aksara (PBA) tahun 2007 lalu di Desa Singasari, Kecamatan Karanglewas, Banyumas. Di satu grumbul beberapa orang sepuh tak bisa membaca dan menulis. Selama 45 hari, dilakukan pembelajaran dasar pengenalan huruf dan menulis. Mereka masih mau belajar. Lalu bagaimana dengan Pak Sudi, apa masih mau belajar? 

"Aku wes tua, arep latihan nulis karo maca wes isin. Tapi aku ngerti nek ngitung duit. (Saya sudah tua, mau latihan menulis dan membaca sudah malu. Tapi kalau menghitung uang aku ngerti," katanya.

Saya sempat menawari untuk mengajari mengenal angka dan huruf, namun ada keengganan yang disampaikan. Meski demikian, andaikata ada rangsangan lain semoga orang-orang seperti dia mau belajar. Kuncinya asal tidak malu dan ada semangat!!

Apa di sekitar tempat tinggal Anda masih ada yang buta huruf..?? (**)

Rabu, 12 Oktober 2016

TBM Bawor Akan Gelar Lomba Mewarnai



Diadakan Minggu 16 Oktober 2016


KAMPUNG 57, BANCARKEMBAR - Taman Baca Masyarakat (TBM) Bawor berencana akan mengadakan lomba mewarnai untuk murid TK dan siswa SD. Kegiatan akan dilakukan pada Minggu, 16 Oktober 2016 mendatang di pingpongan RT 05 RW 07 Bancarkembar.

Ketua TBM Bawor, Anies Indah Hariyanti mengatakan, kegiatan ini merupakan sarana pengenalan keberadaan TBM Bawor kepada masyarakat, khususnya anak-anak. Ia berharap, dengan kegiatan ini bisa menjadi penanda kehadiran TBM Bawor di tengah-tengah warga.

"Selain lomba mewarnai, kami berencana menggelar lomba dan kegiatan lain seperti lomba dongeng untuk pelajar, menonton film bersama tentang sosialiasasi bencana alam dari BNPB RI serta hiburan sulap," kata Anies.

Untuk teknis kegiatan mewarnai adalah untuk peserta murid TK dan siswa SD di lingkungan RW 07 Bancarkembar. Tiap peserta diharuskan membawa alat warna (crayon) sendiri serta mendaftar dengan biaya Rp 1.000. Nantinya peserta akan mendapatkan bingkisan.

"Ini semata untuk kemeriahan, hiburan," ujarnya.



Sebagai latihan, telah diadakan kegiatan penjajakan berupa latihan mewarnai yang diadakan Selasa, 11 Oktober 2016 sore. Kegiatan diikuti 18 anak. Suasana berlangsung ceria. Peserta putra dan putri mengerjakan gambar berbeda. Saat acara digelar, situasi TBM Bawor terlihat seperti suasana di PAUD. Para peserta duduk menghadap ke meja pingpong dengan didampingi orangtua. Hasil karya para peserta kemudian ditempel di tembok TBM.

"Yang dinilai adalah hasil akhir karya berupa kerapaian, komposisi warna, dan keindahan," ujar Hanan Wiyoko, pengarah TBM Bawor. Bagi yang berminat, bisa mendaftar dengan cara datang ke Pingpongan saat hari-H lomba. (**)

Selasa, 11 Oktober 2016

TBM Bawor Sisir Anak Putus Sekolah




Dorong Pendidikan Kesetaraan

KAMPUNG 57, BANCARKEMBAR - Keberadaan Taman Baca Masyarakat (TBM) Bawor diharapkan tak sekadar menjadi tempat tumbuhnya gerakan literasi semata. Diharapkan memiliki nilai lebih. Satu diantaranya adalah menjadi pendorong kesadaran pentingnya pendidikan.

Satu hal yang dilakukan adalah mendorong agar anak mau menuntut ilmu dan belajar. Seperti diketahui, di sekitar lokasi TBM Bawor terdapat beberapa anak putus sekolah. Bahkan dari hasil penyisiran ada tunaaksara (buta huruf) serta remaja putus sekolah di tingkat pendidikan dasar. Ini memprihatinkan. Karenanya perlu didorong agar mau bersekolah kembali.

Untuk tujuan ini, TBM Bawor kedatangan seorang tamu. Adalah Isrodin, pegiat Pendidikan Non Formal dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) asal Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Kang Isrodin, begitu namanya akrab disapa datang ke TBM Bawor pada Selasa, 11 Oktober 2016 sore. Pria lulusan kampus IAIN Purwokerto ini datang untuk menyemangati gerakan literasi sekaligus memotivasi anak-anak putus sekolah agar mau ikut menuntut ilmu lagi.

"Perintah menuntut ilmu itu wajib bagi umat Islam sejak lahir sampai ke liang lahat. Bukankah ayat pertama yang diterima nabi adalah perintah 'Iqro' yang berarti Bacalah," ujarnya kepada warga RT 05 RW 07 Bancarkembar yang datang meramaikan TBM Bawor.

Khusus kepada tiga remaja putus sekolah, Kang Isrodin menyempatkan berbincang dari hati ke hati. Ditemani Ketua RT 05 RW 07 Bancarkembar, Hanan Wiyoko, dia menanyakan penyebab putus sekolah. Tak kalah penting ditanyakan juga apakah masih niat untuk sekolah atau tidak?

"Eman-eman masih muda, harus mau belajar. Ke depan kalau bekerja pasti ditanyakan punya ijazah apa? atau keterampilan apa," ujar Kang Isro, bapak kelahiran Kota Purbalingga. 

Mereka yang disemangati adalah Bejo (22), Adit (16), dan Rafi (16). Untuk Bejo, yang putus sekolah dibangku kelas 2 SD ia menyarankan untuk masuk Program Kesetaraan Paket A. Untuk Adit, yang putus sekolah di bangku kelas 1 SMP dia disarankan masuk Paket B. Sedangkan untuk Rafi, lulusan SMP tahun 2016 kemarin ia menyarankan untuk kembali ke pendidikan formal karena yang bersangkutan masih memiliki semangat menuntut ilmu.

"Jangan bayangkan pendidikan kesetaraan itu ribet. Engga kok, belajarnya bisa di TBM Bawor, atau di Purwonegoro di rumah Ibu Nunik. Nanti baru kalau saatnya ujian bergabung bersama kawan lainnya," ujarnya. Ia menambahkan, program kesetaraan Paket A masih diadakan, bahkan tingkat Kabupaten Banyumas diadakan di PKBM Satria Tama yang menginduk di SDN 3 Bancarkembar.

"Mumpung lokasinya dekat, ayo pada ikut belajar lagi. Yang jauh-jauh dari Tambak, Kemranjen dan kecamatan lain malah datang ke Bancarkembar. Masa yang di Bancarkembar tidak semangat," katanya.

Mendapat motivasi tersebut, Bejo mengaku siap kembali sekolah. Begitujuga dengan Adit.

"Ya siap kembali sekolah," katanya. Saat sesi wawancara, masing-masing anak didampingi orangtua yang turut mendengarkan dan mendorong agar mereka mau sekolah lagi. (**)

Ayooo pada belajar, sekolah lagi...jangan malu, jangan minder..

Relawan Bantu Polisi Seberangkan Pelajar


Sinergi Babinkamtibmas-Keamanan, Pertama di Kabupaten Banyumas



KAMPUNG 57, BANCARKEMBAR - Priiiit..priiit..priiit. Suara peluit terdengar melengking. Disusul kibasan bendera semaphore memberi tanda kepada pengguna jalan. Sejurus kemudian, rombongan anak-anak sekolah dasar bergegas menyeberang menuju ke sekolah. Lalu lintas di depan SDN 3 dan SDN 4 Bancarkembar di Jalan Ringintirto sangat liput di pagi hari. Ego pengguna jalan kadang membuat penyeberang yang kebanyakan pelajar sulit melintas. 

Di marka jalan terlihat beberapa orang. Satu berseragam polisi berompi hijau dan sejumlah pria berseragam kemeja hijau hitam bertuliskan Seksi Keamanan RW 07 Bancarkembar.  Kehadiran para petugas seksi keamanan RW untuk membantu polisi mengatur lalu lintas di depan sekolah adalah hal baru. Barangkali, kegiatan yang dilakukan Seksi Keamanan RW ini adalah yang pertama di Kabupaten Banyumas.

Kehadiran para relawan ini dimulai 5 Oktober lalu. Dipimpin Ketua RW 07 Nurkanto dan Kordinator Seksi Keamanan RW 07 Irianto mereka melibatkan anggota untuk turun ke jalan raya. 
Tugasnya mengamankan para pelajar dan warga sekolah yang hendak berangkat ke SDN 3 dan SDN 4 Bancarkembar. Dua sekolah ini bersebelahan yang berada di tepi jalan Ringintirto. Meski berada di tepi jalan ramai, pihak sekolah tidak menyiapkan petugas sekolah untuk membantu anak menyeberang. Tugas keamanan mengatur arus lalu lintas depan sekolah dijalankan oleh Bripka Supriyo Bhabinkamtibmas Polsek Purwokerto Utara, seorang diri. Di pintu masuk sekolah ada traffic cone warna oranye.

"Arus lalu lintas di depan sekolah ramai. Sangat terbantu dengan kehadiran Seksi Keamanan RW 07 Bancarkembar yang bertugas menyeberangkan para pelajar," kata Mas Priyo, begitu panggilan akrab bripka asal Desa Ledug, Kecamatan Kembaran Banyumas ini.

Menurutnya, kehadiran relawan dari seksi Keamanan RW perlu diapresiasi.

"Di Kabupaten Banyumas barangkali hanya disini (Bancarkembar) yang seperti ini. Perlu diteruskan," harapnya ditemui usai bertugas.

Ketua RW 07 Nurkanto mengatakan, kegiatan tersebut merupakan kesadaran dari anggota Seksi Keamanan RW. Menurutnya, belum ada jadwal yang mengatur giliran turun ke jalan. Rencana membantu Babinkamtibmas bertugas di depan SD sebelumnya sudah disosialisasikan di rapat RW yang diadakan Selasa, 4 Oktober lalu.

"Ini pelayanan masyarakat yang tumbuh dari kesadaran anggota Seksi Keamanan. Tujuannya membantu mengamankan para pelajar maupun warga sekolah yang menuju ke sekolah," ujarnya. Ia menambahkan, tetap ada pengguna jalan seperti pengendara motor yang tidak mau memperlambat kecepatan meski sudah diberi tanda untuk melambat.

Kehadiran polisi dibantu relawan pengatur lalu lintas ini direspon positif oleh masyarakat dan pengguna jalan. Terkadang mereka yang penasaran ada yang berhenti, menepi dan kemudian bertanya aktivitas tersebut. Beberapa orang heran dan bertanya, apa mereka mendapat honor? bagaimana kegiatan tersebut bisa tercipta? 

"Menyeberang rasanya lebih aman karena ada pak polisi dan dibantu bapak-bapak Seksi Keamanan. Terima kasih sekali," kata Ibu Tum yang mengantar anak keduanya ke sekolah. 

Selamat bertugas pak Polisi dan bapak-bapak Seksi Keamanan RW 07 Bancarkembar.
Hati-hati dalam bertugas. (**)





Senin, 10 Oktober 2016

Menggemakan Program KB dari Gang Senggol


RW 07 Bancarkembar Jadi Kampung KB



KAMPUNG 57, BANCARKEMBAR - Alhamdulillah..RW 07 Bancarkembar kembali mendapat amanah. Kali ini ditunjuk untuk menjadi percontohan 'Kampung Keluarga Berencana (KB)' di tingkat Kelurahan Bancarkembar. Artinya, di satu kelurahan yang terdiri (klo tidak salah dari 12 rukun warga (RW) ini, RW 07 terlihat menonjol dalam hal kekompakan warga dan anggota.

Lurah Bancarkembar, Ikhwan Sulistiyo SH, sebelumnya mengatakan, terpilihnya RW 07 dikukuhkan sebagai 'Kampung KB' lantaran di satuan kewilayahan ini banyak terdapat peserta KB serta lengkap jenis kepesertaannya. RW 07 berada di Grumbul Kembaran termasuk kampung yang padat penghuni, ada tujuh RT dengan corak kehidupan masyarakat yang masih guyub rukun. Wilayah RW 07 banyak memiliki gang (jalan setapak) dengan jarak rumah yang saling berimpitan. Kadang ada istilah 'gang senggol' karena gang yang sempit dengan jumlah penduduk yang banyak.

"Diharapkan program Kampung KB bisa kembali bergaung di RW 07 Bancarkembar," harapan pak Lurah.

Barangkali ada yang bertanya, apa sich Program Kampung KB itu?
Menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasiona (BKKBN) Pusat Dr Surya Chandra menjelaskan, Kampung KB merupakan salah satu program revolusi mental berbasis keluarga untuk membangun karakter bangsa Indonesia.

Dengan adanya Kampung KB, diharapkan manfaat program KB dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama di wilayah kategori miskin, padat penduduk, terpencil yang tersebar di Indonesia. Pelaksanaan program KB sekarang lebih difokuskan pada masyarakat tidak mampu dan tidak punya akses terhadap fasilitas kesehatan. Program ‘Kampung KB’ dilaunching oleh Presiden RI Joko Widodo pada 14 Januari 2016 di Cirebon.

“Masyarakat RW 07 diharapkan mendukung program ‘Kampung KB’. Kembali saatnya menggemakan program Keluarga Berencana, dua anak cukup,” kata Nurkanto, Ketua RW 07 Bancarkembar.

Sebagai bentuk persiapan, belum lama ini dilakukan sosialisasi oleh petugas lapangan KB, dan kecamatan serta kelurahan di PAUD Durian Emas, Bancarkembar. Kegiatan pembinaan dihadiri oleh para kader, tokoh masyarakat, dan para ketua RT. Nantinya, kegiatan akan dilakukan perkelompok mulai dari pembinaan kelompok balita, remaja, dan lansia. (**)


Ditulis oleh Hanan Wiyoko, Bidang Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE).

Jumat, 07 Oktober 2016

Ketika Pingpongan Jadi Taman Baca

Taman Baca Masyarakat (TBM) Bawor Gugah Kemauan Belajar


KAMPUNG 57,BANCARKEMBAR - Pingpongan biasanya ya buat olahraga tenis meja. Tapi hal ini tak sepenuhnya berlaku di kampung 57 (baca: RT 5 RW 7). Di tempat kami, persisnya di Gang Pancawarna, lapangan pingpong yang berwarna hijau itu diubah menjadi meja besar. Net kami lepas, bet kami simpan. Meja ukuran 2 meter itu kami fungsikan untuk menggelar ratusan judul bahan bacaan.

Ya..karena keterbatasan sarana, meja pingpong dijadikan lokasi taman baca masyarakat. Meski sederhana, di lokasi ini ramai didatangi warga, khususnya ketika sore. Saat koleksi buku digelar, anak-anak dan kelompok ibu rumah tangga berdatangan untuk memilih buku.

TBM Bawor didirikan awal September 2016 lalu oleh Ketua RT 05 RW 07 Bancarkembar, Hanan Wiyoko. Tujuannya untuk mendorong semangat membaca sejak dini bagi kelompok anak-anak serta menambah wawasan dan mengisi waktu luang bagi ibu rumah tangga. Koleksi buku dikumpulkan dengan membagi proposal serta Gerakan Donasi Satu Rumah Satu Buku.

Yuuuk mari membaca. (hwo)


Remaja Kampung 57 Belajar Internet

Yuuuk Ngeblog


KAMPUNG 57, BANCARKEMBAR  - Internet. Siapa sih orang di abad 21 ini yang nda kenal? Kayaknya hampir setiap orang, udah kenal dan memanfaatkan internet. Ada yg mengakses dari warnet, layanan internet di rumah, akses wifi maupun klik dari telepon pintar masing-masing.

Termasuk kami, para remaja yang tinggal di gang 'senggol' di RT 05 RW 07 Kelurahan Bancarkembar, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Tak mau ketinggalan globalisasi, kami ingin bisa memanfaatkan internet untuk hal-hal positif.

Lewat blog ini, kami pengen belajar nge-blog bareng-bareng.
Yuuk nge-blog...